Plajan

0.0 (0 Reviews)

Deskripsi

Desa Wisata Plajan

Desa Plajan merupakan salah satu Desa Wisata di Kabupaten Jepara, tepatnya di Kecamatan Pakis Aji. Desa Plajan berada di sebelah timur ibu kota kabupaten dengan jarak tempuh ke Kecamatan kurang lebih 5 KM dan ke Ibu Kota Kabupaten  kurang lebih 22 KM, dapat ditempuh dengan kendaraan kurang lebih 30 menit. Desa Plajan berbatasan dengan Desa Kepuk Kecamatan Bangsri (sebelah utara), Desa Tanjung Kecamatan Pakis Aji (Sebelah Selatan), Desa Guyangan dan Desa Lebak Kecamatan Pakis Aji (Sebelah Barat). Luas wilayah daratan Desa Plajan yaitu 1,044,500 Ha dan tidak memiliki wilayah pantai. Luas lahan terbagi menjadi pertanian, pemukiman warga, fasilitas umum, dan kegiatan ekonomi. Secara topografi desa plajan dapat dibagi menjadi dataran rendah dan dataran tinggi, dengan ketinggian antara 300-500 m dari permukaan laut dengan suhu udara 17-25 derajat Celcius dan curah hujan rata-rata 4 -25 mm. Secara administratif Desa Plajan terdiri dari 43 RT, 7 RW dan 24 Dukuh. Desa Plajan juga memiliki julukan sebagai Desa Hutan. Dikarenakan Desa Plajan dulunya merupakan desa yang gundul, akan tetapi  Plajan berhasil melakukan kegiatan peduli hutan dengan melakukan penanaman pohon yang terus digencarkan hingga mencapai hasil sebagai Juara 1 Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam Wana Lestari Tingkat Nasional 2011. Hal tersebut menjadi latar belakang Desa Plajan mendapat julukan sebagai Desa Hutan. Selain itu, sebagai bentuk representasi dari kejuaraan tersebut dibuatlah tugu yang dinamai Tugu Partini. Dibagian atas Tugu Partini merupakan bentuk replika dari piala kejuaraan penghijauan dan konservasi alam yang diperoleh.

Plajan juga dikenal sebagai desa wisata dikarenakan potensi desa plajan yang kaya akan bermacam-macam wisata. Pada tahun 2011 Desa Plajan  resmi dinobatkan sebagai desa wisata. Tempat wisata di Plajan antara lain Goa Sakti, Wana Wisata Akar Seribu, Museum Gong Perdamaian Dunia, Pasar Payung (wisata kuliner), Sirkuit Bumi Arafah, Punden Bale Romo dan Batu Putri. Wana Akar Seribu merupakan wisata Plajan yang pertama kali dibuka untuk wisata keluarga tepatnya pada tahun 2005. Progres yang ditunjukkan dari adanya wisata Wana Wisata Akar Seribu pada saat itu sangat besar. Melalui berbagai event desa yang diselenggarakan di Wana Wisata Akar Seribu memberikan peluang besar bagi Desa Plajan untuk mengembangkan potensi wisata lain yang ada. Usaha Desa Plajan dalam pengembangan wisatanya tidaklah mudah. Mulai dari usaha desa menyulap Desa Plajan yang gundul menjadi desa hutan, melakukan gerakan penanaman pohon sejak 2001-2005, hingga dinobatkan menjadi desa wisata pada tahun 2011. Setelah mendapatkan penghargaan sebagai juara penghijauan dan konservasi alam, mulailah dilakukan pengembangan wisata lain seperti Goa Sakti dan Museum Gong Perdamaian. Goa Sakti sendiri merupakan wisata alam berupa Goa yang terbentuk secara proses alami, dan konon menjadi tempat bertapa dan tempat untuk menyemedikan barongan. Namun sekarang sudah tidak lagi digunakan untuk hal-hal mistis tetapi sebagai wisata. Selain itu, di Goa Sakti juga mengalir sungai yang jernih dengan bebatuan yang indah. Sedangkan Museum Gong Perdamaian Dunia merupakan museum tentang perjalanan Presiden Komite Perdamaian Dunia Djuyoto Suntani. Tidak hanya itu, di dalam Museum Gong Perdamaian di Desa plajan dicanangkan sebagai Pusat Peradaban Dunia. Muncul ide membuat sebuah icon perdamaian dunia dalam bentuk gong. Gong dijadikan sebagai icon perdamaian dikarenakan dulu di Desa Plajan terdapat gong keramat yang memiliki usia 450 tahun, yang digunakan sebagai salah satu metode dakwah seorang wali yang menyebarkan agama Islam di Jepara. Maka dari itu, disebut sebagai Gong Perdamaian Dunia (World Peace Gong). Gong yang berada di Plajan merupakan replika, sedangkan gong yang asli telah dipindah dan berada di Bali. Museum Gong Perdamaian Dunia berisi Gong Perdamaian Nusantara, Gong Perdamaian Asia-Afrika, Gong Perdamaian Dunia, Kendi Pancasila, Tanah yang berasal dari 202 negara, Sumur Perdamaian, Situs Pusat Bumi, Cagar Budaya Bendera 202 Negara dan Altar Perdamaian Dunia.

Tidak hanya itu, Plajan juga terkenal sebagai desa multi agama. Hal tersebut tercermin dari keberadaan bermacam-macam agama di Plajan. Agama yang ada di Desa Plajan yaitu Islam, Hindu, Kristen dan Budha. Perbedaan bukan menjadi penghalang bagi Desa Plajan untuk tetap berbaur dan bekerjasama dalam kegiatan untuk membangun Desa Plajan. Toleransi dan kerukunan Desa Plajan sangat tinggi. Hal tersebut terbukti ketika salah satu agama memiliki acara besar seperti Hari Raya Nyepi maka masyarakat juga ikut membantu berjaga di tempat-tempat ibadah untuk menjaga kondusifitas jalannya upacara keagamaan. Bahkan ketika Hari Raya Nyepi Umat Hindu, mushola-mushola melakukan adzan tanpa pengeras suara. Selain religi, Plajan juga terkenal akan kebudayaan lokalnya. Kebudayaan di Desa Plajan meliputi Emprak, Tayub, Wayang, Barongan, dan Terbang Telon. Desa Plajan juga memiliki kebudayaan yang masih lestari hingga sekarang. Kebudayaan tersebut berupa event-event yang diselenggarakan di Desa Plajan, acara tersebut yaitu Sedekah Bumi. Sedekah Bumi merupakan acara tahunan yang diselenggarakan oleh masyarakat Desa Plajan sebagai bentuk rasa syukur atas segala bentuk hasil bumi yang diperoleh. Acara Sedekah Bumi dilaksanakan satu tahun tepatnya di Bulan Besar (Bulan Dzulhijjah). Penyelenggaraan acara kebudayaan tersebut bertempat di Punden Bale Romo. Setiap acara Sedekah Bumi akan diiringi oleh penampilan budaya berupa wayang kulit. 

Desa Plajan juga memiliki kuliner seperti horog-horog,bubur srintil (bubur pati aren), jenang srintil, krupuk bawang, dan criping. Plajan juga memiliki pasar kuliner dengan sebutan Pasar Payung. Dinamai pasar payung karena diatas lapak pedagang terdapat payung-payung kecil. Pasar Payung dulunya merupakan pasar kuliner Plajan yang buka di sore hari dan menjual berbagai makanan tradisional. Selain itu keunikan dari pasar payung yaitu penjual tidak menggunakan plastik untuk membungkus jajanannya, melainkan menggunakan daun pisang. Namun sekarang pasar payung sudah tidak seperti dulu. Pasar payung sekarang menjadi pasar pagi yang buka setiap jam 6-8 pagi. Jajanan yang dipasarkan berupa hasil pertanian desa plajan seperti pisang, ubi jalar, ubi kayu, serta jajanan seperti horog-horog, lontong, gorengan, cendol dawet dan gethuk.

Show more

Review (0)
0.0

Write a review

Rate This Place
Tulis Review

Spot sekitar

×